Faktakalsel, NASIONAL – Bencana banjir di Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatra Barat, merendam 152 unit rumah warga pada Jumat (8/5/2026). Peristiwa hidrometeorologi ini dipicu oleh curah hujan dengan intensitas lebat dan berdurasi lama yang mengguyur wilayah kepulauan tersebut, sehingga mengakibatkan debit air meluap dan menggenangi kawasan permukiman penduduk di beberapa desa.
Berdasarkan data pemutakhiran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dihimpun hingga akhir pekan, sebaran wilayah terdampak genangan air ini mencakup dua kecamatan utama. Di wilayah Kecamatan Sipora Selatan, luapan air merendam rumah warga yang berada di Desa Bosua, Desa Saureinu, dan Desa Mara. Sementara itu, di wilayah Kecamatan Sipora Utara, banjir menerjang permukiman penduduk yang berlokasi di Desa Goisooinan.
Merespons kejadian bencana tersebut, tim reaksi cepat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Mentawai bersama instansi terkait langsung turun ke lokasi terdampak. Petugas di lapangan segera melakukan asesmen kerusakan dan mendata kebutuhan mendesak para korban. Selain itu, tim gabungan juga langsung mendistribusikan bantuan logistik darurat berupa paket sembako serta peralatan pendukung kepada warga yang rumahnya terendam genangan air.
Berdasarkan laporan pemantauan lanjutan dari petugas di lapangan, kondisi banjir di Kepulauan Mentawai ini dilaporkan telah surut sepenuhnya pada Sabtu (9/5/2026). Warga setempat kini mulai melakukan pembersihan material lumpur dan sisa genangan air dari dalam rumah mereka.
Meski air telah surut, potensi ancaman bencana susulan masih membayangi sejumlah wilayah di Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prakiraan cuaca yang menyebutkan bahwa hampir seluruh wilayah Indonesia berpotensi dilanda hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai angin kencang pada periode 10 sampai 11 Mei 2026.
Menyikapi prakiraan cuaca tersebut, BNPB mengeluarkan imbauan resmi kepada seluruh pemerintah daerah dan lapisan masyarakat untuk meningkatkan level kesiapsiagaan operasional. Masyarakat diminta waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah seperti tanah longsor dan banjir susulan.
Sebagai langkah mitigasi konkret, warga yang bermukim di sekitar daerah aliran sungai dan kawasan perbukitan diminta untuk segera membersihkan tumpukan sampah yang menyumbat aliran sungai dan jaringan drainase permukiman. Selain itu, warga juga diinstruksikan untuk melakukan pemantauan rutin terhadap debit air sungai di wilayah masing-masing. Apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung lama tanpa henti, masyarakat diimbau untuk tidak menunggu arahan petugas dan segera melakukan evakuasi mandiri ke lokasi pengungsian yang lebih aman.














