Breaking News
PAM Bandarmasih Gandeng ULM Lakukan Survei Kepuasan dan Kebutuhan Air Masyarakat HABARPAM.COM, BANJARMASIN – PT Air Minum Bandarmasih (Perseroda) menjalin kerja sama dengan Jurusan Statistika Fakultas MIPA Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dalam pelaksanaan Survei Kepuasan Pelanggan dan survei real demand atau kebutuhan air di masyarakat. Kerja sama ini dilakukan sebagai langkah strategis perusahaan dalam memperoleh data riil di lapangan guna meningkatkan kualitas pelayanan kepada pelanggan di Kota Banjarmasin. Direktur Utama PT Air Minum Bandarmasih (Perseroda), Zulbadi mengatakan, survei ini menjadi bagian penting dalam proses evaluasi dan pengembangan layanan perusahaan ke depan. “Melalui survei ini, kami ingin mendapatkan gambaran nyata terkait tingkat kepuasan pelanggan sekaligus mengetahui kebutuhan air masyarakat secara langsung. Data ini sangat penting sebagai dasar dalam pengambilan kebijakan perusahaan,” ujarnya. Ia menjelaskan, data dan informasi yang diperoleh dari hasil survei akan digunakan untuk memetakan kondisi eksisting perusahaan, sehingga dapat menjadi acuan dalam menentukan langkah perbaikan dan pengembangan. “Dari data tersebut, kami bisa menentukan langkah strategis seperti peningkatan kapasitas produksi, perbaikan kualitas air, hingga peningkatan tekanan distribusi ke pelanggan. Semua itu tentu berbasis data agar lebih tepat sasaran,” lanjutnya. Dalam pelaksanaannya, kegiatan survei ini melibatkan sekitar 70 orang surveyor yang berasal dari mahasiswa Jurusan Statistika Fakultas MIPA ULM. Para surveyor akan turun langsung ke lapangan untuk mengumpulkan data dan informasi dari masyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut, pihak perusahaan juga mengimbau kepada seluruh masyarakat Kota Banjarmasin agar dapat menerima para surveyor dengan baik serta memberikan data dan informasi yang akurat sesuai kondisi di lapangan. “Kami berharap masyarakat dapat mendukung kegiatan ini dengan memberikan informasi yang jujur dan terbuka. Karena keakuratan data sangat menentukan hasil pemetaan dan kualitas kebijakan yang akan diambil,” paparnya. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan bagian dari komitmen PT Air Minum Bandarmasih (Perseroda) dalam membangun kolaborasi dengan berbagai pihak demi peningkatan mutu pelayanan. “Kami akan terus membuka ruang kolaborasi, baik dengan perguruan tinggi, media, LSM, maupun seluruh stakeholder di Kota Banjarmasin. Semua ini kami lakukan untuk satu tujuan, yaitu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” tambahnya. Melalui kegiatan ini, diharapkan PT Air Minum Bandarmasih (Perseroda) dapat semakin memahami kebutuhan pelanggan secara menyeluruh, sehingga mampu menghadirkan layanan air bersih yang lebih optimal, berkualitas, dan berkelanjutan bagi masyarakat.(apr) Kejari Banjarmasin Tetapkan Tersangka Baru Terkait Dugaan Korupsi Sewa Komputer Kejaksaan Agung Benarkan Penggeledahan Badan Gizi Nasional Terkait Perkara Tindak Pidana Khusus Pengembangan Inovasi Vaksin Etana Dukung Terwujudnya Kemandirian Kesehatan Masyarakat Indonesia Presiden Prabowo Resmi Copot Dadan Hindayana dari Jabatan Kepala Badan Gizi Nasional

Diduga Jadi Korban TPPO, Puluhan Pria Ethiopia Dikurung dalam Keadaan Telanjang

Ilustrasi seorang pria dalam tahanan/Pixabay

FAKTA GRUP – Puluhan pria Ethiopia yang diyakini korban perdagangan manusia di Johannesburg diselamatkan aparat kepoisian Afrika Selatan.

Hal ini setelah sekelompok orang memecahkan kaca dan merampok sebuah bar untuk melarikan diri dari sebuah rumah di mana mereka dikurung dalam keadaan telanjang.

Tiga orang ditangkap dengan dugaan perdagangan manusia dan kepemilikan senjata api ilegal pada Kamis malam 9 Januari 2025 setelah para tetangga yang mendengar keributan di Sandringham, daerah pinggiran Johannesburg, menghubungi pihak kepolisian, menurut pernyataan unit kejahatan serius Hawks.

Polisi mendorong masyarakat untuk melapor apabila melihat orang yang telanjang di daerah tersebut.Sekitar 60 pria Ethiopia dikurung dalam keadaan telanjang di sebuah rumah.

Kamera televisi menunjukkan darah berceceran di bawah sebuah jendela terbuka di bagian depan rumah tersebut. Polisi mengatakan 11 orang dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Sejumlah orang Ethiopia masih belum berhasil diamankan petugas.

“Petunjuk yang kami miliki menandakan bahwa ini adalah masalah perdagangan manusia, karena mereka sebenarnya melarikan diri dari rumah tersebut dan mereka dikurung dalam keadaan telanjang. Sepertinya itu adalah modus operandi untuk membuat mereka malu dan tidak berusaha melarikan diri,” kata Philani Nkwalase, seorang juru bicara kepolisian.

Seorang wanita tetangga dari rumah di mana orang-orang tersebut dikurung mengatakan bahwa dirinya sangat terkejut dengan peristiwa itu. Menurutnya, dia terakhir kali melihat ada orang di properti itu beberapa pekan lalu ketika putranya berusaha mengambil bola yang melambung melewati pagar.

Sejak berakhirnya apartheid tiga dekade silam, Afrika Selatan menarik banyak kedatangan migran dari negara-negara Afrika. Namun, munculnya kekhawatiran para migran datang untuk menyelundupkan narkoba atau menambah angka pengangguran semakin parah memicu sikap xenophobia, kebencian dan tindak kekerasan terhadap orang asing.

Dari 62 juta populasi Afrika Selatan terdapat 2,4 juta orang kelahiran luar negeri, menurut sensus 2022. Sementara lebih dari tiga perempat migran merupakan pendatang dari negara-negara di belahan selatan Afrika, sekitar 58.000 migran Ethiopia mencari peruntungan hidup di negara itu.

Pada bulan Agustus 2024, sebanyak 82 warga Etiopia ditemukan berdesakan di sebuah rumah di wilayah yang sama di Johannesburg, tanpa cukup makanan atau fasilitas toilet dan kamar mandi yang layak. Tujuh dari mereka awalnya dianggap masih di bawah umur dan 19 lainnya dikatakan masih di bawah umur ketika mereka dibawa ke pengadilan atas dugaan memasuki Afrika Selatan secara ilegal.

“Mereka semua adalah migran tak berdokumen yang bukan korban perdagangan manusia tetapi diselundupkan ke negara ini,” kata Departemen Dalam Negeri dalam sebuah pernyataan akhir bulan itu.

Nkwalase mengatakan tidak jelas apakah kasus Agustus tahun lalu itu berkaitan dengan kasus terbaru ini. Aparat kepolisian masih kesulitan untuk memeriksa orang-orang Ethiopia itu karena minimnya tenaga penerjemah.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *